Cerita Inspirasi Orang Lain :D

Posted in kampus on September 11th, 2010

Nama   :  Maydariana Ayuningtyas

NRP    :  C34100027

Laskar 3 / Panji 1

Saya akan menceritakan kisah yang terjadi sekitar 8 tahun yang lalu, tepatnya pada bulan September 2002.

Hari itu, keluarga saya beraktivitas seperti biasa. Saat itu, saya masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Saya bersekolah, dan kedua orangtua saya pergi bekerja. Sementara di rumah ada pembantu yang menjaga rumah. Sorenya, saya tidak dijemput oleh ayah saya. Tidak seperti biasanya. Lalu om saya yang merupakan adik dari ibu saya datang menjemput ke sekolah, walaupun agak terlambat. Saya tidak terlalu heran, toh mungkin ayah saya sedang rapat atau ada keperluan lain yang lebih mendesak dan tidak bisa menjemput, sehingga saya tidak bertanya kepada om saya itu.

Sesampainya di rumah, ternyata ibu saya sudah tiba terlebih dahulu. Saya tidak merasakan hal yang tidak biasa. Sampai akhirnya hingga larut malam, ayah saya tidak kunjung pulang. Lalu saya bertanya pada ibu. Beliau bilang, ayah saya sedang pergi ke dokter. Saya, yang saat itu masih SD tidak terlalu memusingkan hal itu.

Hingga hari-hari keesokannya, ayah saya tidak pernah pulang. Kalau saya bertanya pada ibu, beliau pasti menjawab bahwa ayah sedang tugas di luar kota. Atau alasan-alasan lain yang bisa langsung diterima oleh anak berusia 9 tahun. Tapi saya juga sedikit merasa heran, karena banyak saudara-saudara saya dari jauh yang datang ke rumah dan menginap. Karena rutinitas saya pada saat itu hanyalah sekolah dan sesekali bermain, jadi saya tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang mereka lakukan di sini.

Suatu hari, setelah pulang sekolah, saya dijemput oleh om saya. tetapi tidak langsung ke rumah, melainkan ke rumah sakit. Lalu saya dibawa ke sebuah ruangan. Steril. Bersih. Banyak orang di dalamnya. Saudara-saudara saya, juga ibu, nenek, dan kakek saya. Dan saya melihat ayah saya terbaring di kasur khusus pasien di dalam ruangan itu. Dengan kepala yang botak sebelah. Berkaca-kaca? Ya. Itu yang saya lakukan tanpa disadari. Yang waktu itu saya lihat, ayah saya menangis melihat saya datang. Terlihat jelas bahwa beliau ingin sekali mengucapkan sesuatu, tetapi tidak bisa karena fisiknya yang lemah dan juga selang-selang yang bertebaran hampir menutupi mukanya. Dan saya masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Ibu saya pun bercerita. Ayah saya terkena penyakit meningitis. Radang selaput otak, di bagian otak kirinya terdapat cairan yang disebabkan oleh virus. Hmm, saya waktu itu belum mengerti apa artinya. Selain itu, tekanan darahnya juga sangat tinggi, begitu juga dengan kadar gula darahnya. Dan beliau baru saja menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan tersebut. Tengkoraknya dilubangi dengan alat semacam bor. Dan bekas jahitan di kepalanya terlihat jelas.

Ibu juga bercerita bahwa ayah koma selama 3 minggu, tetapi akhirnya bisa sadar. Subhanallah. Mukjizat itu memang ada. Dampaknya, ayah saya seperti seorang yang amnesia, tidak ingat apa-apa. Ibu saya bilang, beliau tidak mengingat apapun dan siapapun, termasuk keluarganya. Beliau hanya ingat anaknya satu-satunya, yaitu saya. Ketika diperlihatkan foto saya, beliau berteriak sambil menangis, seolah memberi isyarat bahwa beliau sangat mengenal orang di foto itu. Bahkan beliau tidak mengenali orangtua dan istrinya, sama sekali. Hal inilah yang membuat saya selalu tergetar tiap kali mengingatnya.

Singkat cerita, ayah saya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tetapi tetap menjalani pengobatan rawat jalan dan berbagai macam terapi untuk memulihkan kondisinya. Kasarnya, seperti mengajarkan anak balita. Membaca, menulis, berhitung, mengingat sesuatu, melakukan sesuatu, dan lain sebagainya. Dengan kesabaran hati dan ketekunan, akhirnya ayah saya sembuh dan kembali seperti sediakala.

Ketika sakit, ayah saya selalu bilang, “Jangan sedih, papa nggak apa-apa. Nggak sakit kok. Justru kamu harus buktikan kalau kamu bisa sukses, jadi orang. Belajar saja yang benar, insya Allah papa sehat.” Kata-kata itu bagaikan cambuk penyemangat bagi saya. Ya, aku harus membuat ayah, dan juga ibu, bangga terhadapku.

Ayah menginspirasi banyak hal. Salah satunya, usaha dan keinginannya untuk sembuh. Saya mengenal ayah adalah sosok yang luar biasa. Beliau adalah seorang pekerja keras, tekun dan gigih setiap mengerjakan sesuatu. Dan beliau sangat tegas, tidak setengah-setengah ketika memilih sesuatu. Walaupun sejak kecil hingga detik ini saya selalu dididik dengan sangat tegas, saya tidak merasa itu adalah beban. Justru saya sangat berterimakasih kepada beliau, karena dengan begitu mental saya juga mudah-mudahan menjadi semakin kuat menghadapi apapun.

Terimakasih Ayah, telah memberikan banyak inspirasi. Semoga nanti ayah, dan juga ibu, bisa melihat orang yang juga dapat memberikan inspirasi bagi banyak orang, sambil menunjuk kepadanya dan berkata, “Itu anak saya!”

Cerita Inspirasi Diri Sendiri :D

Posted in kampus on September 11th, 2010

Nama   :  Maydariana Ayuningtyas

NRP    :  C34100027

Laskar 3 / Panji 1

MATEMATIKA ATAU MATI-MATIKA?

Saya akan membagikan pengalaman saya yang mungkin bisa menghibur dan menginspirasi. Sewaktu saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya kurang begitu menaruh perhatian pada mata pelajaran matematika. Entah kenapa. Sejak awal masuk di tahun pertama, pikiran saya pada pelajaran itu sudah negatif. Maksudnya, saya sudah berpikir bahwa matematika itu susah dan tidak menyenangkan. Dan pemikiran itupun berlanjut hingga saat di tingkat-tingkat selanjutnya.

Saat di SD, saya paling suka dengan pelajaran IPS. Pada saat itu, saya lebih suka menghapal banyak materi ketimbang menghitung angka-angka. Padahal, matematika adalah ilmu paling dasar dari ilmu-ilmu lainnya. Ya, mau tidak mau saya tetap harus mempelajarinya. Saya menjalaninya dengan rasa biasa saja. Artinya, yang saya pikirkan waktu itu, yang penting saya mengikuti pelajaran itu, saya mendapatkan nilai, dan selesai. Saya kurang menyukainya, walaupun saya cukup bisa mengikuti pelajaran matematika di sekolah, menurut saya.

Setelah lulus SD, Alhamdulillah saya diterima di salah satu SMP Negeri favorit di kota saya, Bandung. Saya berpikir, pasti anak-anak yang masuk sekolah itu adalah orang-orang pilihan dan berprestasi dari masing-masing sekolah asalnya. Dan ternyata memang benar. Rata-rata mereka berasal dari sekolah-sekolah favorit bergengsi di Bandung. Mereka yang berprestasi luar biasa, baik akademik maupun non akademik, bersemangat di kelas, dan memiliki rasa bersaing yang tinggi.

Saat awal-awal tahun ajaran di kelas 7, saya masih merasa agak kaget dengan proses pembelajaran di sana yang lebih ketat dan keras dibanding di SD dulu. Tetapi saya berusaha untuk mengimbanginya dengan belajar lebih giat. Selain itu juga memerlukan proses adaptasi terhadap lingkungan yang lebih berat dan luas, karena kami bukan lagi anak sekolah dasar.

Waktu itu saya masih berpikir bahwa matematika itu tidak begitu menyenangkan. Dan saya bertemu dengan guru matematika, yang kebetulan mengajar di kelas saya juga. Namanya Bu Euis Rohati. Cara mengajarnya begitu berbeda. Beliau mengajarkan dengan singkat, tidak bertele-tele, tetapi tepat pada sasaran. Berkat beliau, pandangan saya terhadap ilmu hitung itupun berangsur-angsur berubah. Yang tadinya saya kurang menaruh perhatian terhadap matematika dan sejenisnya, akhirnya saya mulai menemukan bahwa matematika itu menyenangkan juga. Saya pun sering meminta beliau untuk mengajarkan saya di luar jam pelajaran. Saya pun semakin menyadari bahwa matematika tidak seburuk yang saya kira sebelumnya.

Setelah naik ke kelas 8, kelas pun diacak ulang. Dan saya pun masuk ke kelas yang wali kelasnya adalah beliau. Lagi-lagi kebetulan. Saya pun menjadi lebih sering berinteraksi dengan beliau, bertukar pikiran dengan beliau. Cara menerangkannya yang begitu tenang dan berwibawa, seakan menarik saya untuk menyukai matematika. Begitulah, saya pun jadi menyenangi dan menikmati pelajaran itu, yang memang banyak ditakuti dan tidak disukai oleh banyak siswa pada umumnya.

Saya pun naik ke kelas 9, dan tidak diajar lagi oleh beliau. Dan akhirnya saya lulus Ujian Nasional SMP dengan nilai-nilai yang cukup memuaskan, begitu juga dengan nilai matematikanya. Saat saya lulus, Bu Rohati sudah waktunya pensiun dan tidak mengajar lagi di sekolah tersebut. Saya sangat berterimakasih kepada beliau, karena secara tidak langsung telah membantu saya untuk belajar menyenangi matematika.

Kesimpulannya, semua berawal dari pemikiran. Ketika kita berpikir bahwa kita bisa, maka itulah yang akan terjadi. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, tetaplah berpikir positif, berusaha, dan pastinya berdoa untuk mencapai apa yang kita inginkan.